Tampilkan postingan dengan label Prinsip Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prinsip Hidup. Tampilkan semua postingan


JBlogs~Pria bernama Aaron Chervenak yang berasal dari Los Angeles, Amerika Serikat, mendatangi Gereja The Little Vegas di Nevada untuk menikahi ponsel pintarnya. Dia melakukan hal itu karena ingin menunjukkan bagaimana masyarakat saat ini begitu cinta dan bergantung pada ponsel pintar mereka.

Ilustrasi
"Kalau kita mau jujur dengan diri kita, kita terhubung dengan ponsel kita dalam berbagai tingkat emosional. Kita melihatnya sebagai pelipur lara, menidurkan
date Kamis, 30 Juni 2016
 JBlogs--- Sahabat Jblogs, sebenarnya artikel ini sudah saya tulis Selasa, 29 September 2009, namun blog saya  (JohnLock49 blogspot dot com) yang lama sudah tidak bisa dibuka lagi. Sehingga artikel ini saya copas dari Blog sebelumnya.

Dewasa ini orang melayani selalu identik di tempat-tempat ibadah, seperti di Gereja, Masjid, Wihara, maupun kuil. Bahkan ketika mendekati momen pemilihan kepala daerah, banyak slogan-slogan dan tawaran visi misi dari sejumlah calon yang sering kita dengar adalah kalimat "MELAYANI" namun pada kenyataannya melayani hanya sebatas dislogan saja. Apalagi tahun 2015 adalah tahun dimana ada sejumlah daerah menggelar pilkada serempak diseluruh pelosok tanah air, tentu iklan "Melayani" ini akan marak tertulis disetiap atribut dan media-media komunikasi dari para calon tersebut. Jadi seakan-akan kata melayani ini hanya sebagai bumbu penyedap atau "kata emas" untuk mencari dukungan dan suara untuk kemenangan saja. Padahal harusnya kita sebagai umat pemenang  melayani mereka yang mendukung kita. Karena hanya mereka yang memiliki jiwa pemenang saja yang bisa melayani. Sehingga kemenangan bukan karena dilayani namun karena kita melayani.

Sebagai seorang kristen atau pengikut kristus, harusnya paham betul bahwa melayani itu tidak harus dibesar-besarkan lewat tulisan tapi lebih pada tindakan nyata. Serta merta tidak hanya berorientasi pada satu tempat atau terfokus di tempat ibadah saja. Tetapi melayani itu harus sesuai dengan apa yang Yesus mau dalam kehidupan kita. Yesus mau kita berbuah karena setiap pohon atau ranting-ranting yang tidak berbuah akang ditebang dan dilemparkan ke Api. Hebatnya lagi, Yesus tidak sekedar berbicara atau menjelaskan apa itu melayani, namun Yesus sudah terlebih dahulu mengajarkan dan memberi contoh melayani langsung lewat kehidupan-Nya dimuka bumi ini, bahkan tidak tanggung-tanggung Dia rela mati hanya untuk mengasihi dan juga "melayani" kita manusia. Apa saja yang konsep melayani yang bisa kita pelajari dan contohi dari Yesus sebagai ALLAH kita yang hidup? berikut ini adalah ulasannya.

"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus" Matius 28: 19

Ayat diatas seringkali kita dengar ketika ada ibadah baptisan air (tentang Baptisan Air Artikel sementara proses penulisan), bahkan hamba-hamba Tuhan sering menggunakan ayat ini. Namun ada sesuatu yang memberkati penulis yaitu pada kalimat Karena itu pergilah. Disini Yesus menekankan lebih kepada tindakan nyata kita. Kata pergilah disini berarti jangan hanya ditempat saja (move on), jangan diam saja, atau jangan itu-itu saja.

Biasanya disuatu tempat ada ibadah KKR, maka slogan yang sering dipakai adalah "Hadirilah ibadah KKR..bla..bla..bla dan seterusnya, padahal saat Yesus menginjil atau menyampaikan Firman-Nya, tidak pernah berdiam disuatu tempat saja dan bahkan Yesus tidak meminta umatnya datang menghampiri Dia (konsep Melayani bukan konsep Ibadah), tetapi  Yesuslah yang memilih untuk pergi melayani. Banyak pendeta-pendeta bahkan hamba-hamba Tuhan yang nyaman akan keadaan ini. Dimana ketika pelayananya sudah diberkati dan fasilitas kehidupan dari seorang hamba Tuhan terjamin, maka kata pergi disini sangatlah menyakitkan, apalagi dimutasi dari tempat  yang memilki jemaat dan fasilitas yang lengkap ke daerah pelosok-pelosok. Menjadi hal yang menyenangkan dan berbahagia jika dari pelayanan yang kecil dimutasi ke pelayanan yang lebih besar lagi


Markus 10 : 45

Terjemahan Baru
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang
Bahasa Indonesia Sehari Hari
Sebab Anak Manusia pun tidak datang untuk dilayani. Ia datang untuk melayani dan untuk menyerahkan nyawa-Nya untuk membebaskan banyak orang."

Kita mungkin sering bertanya kepada seseorang “dimana Anda melayani Tuhan?” atau ”sedang melayani dimana sekarang?” dan selalu kita menginginkan jawaban dari orang itu seperti ”lagi melayani di gereja ini, itu” atau ”lagi melayani di yayasan pelayanan ini, itu, dsb”.. Definisi kita tentang melayani adalah hampir selalu berfokus pada tempat/gedung gereja, denominasi tertentu, institusi tertentu.

Kita telah menjadi sangat beragama sehingga mengkotakkan konsep melayani dengan cara seperti itu. Kita telah meninggalkan prinsip Yesus tentang melayani. Mari perhatikan tulisan Markus tentang konsep Yesus perihal melayani.

Ada beberapa hal yang penting dari pernyataan Yesus itu :

1. TUHAN YESUS TIDAK INGIN DILAYANI.
2. Fokus Yesus adalah MELAYANI.
3. Fokus Yesus dalam melayani bukan tentang TEMPAT tetapi ORANG.
4. Tingkatan tertinggi dalam melayani adalah memberikan HIDUP kita untuk ORANG LAIN.
5. Kategori utama yang dimaksud Tuhan Yesus tentang ORANG adalah mereka yang belum ditebus oleh darah-Nya yaitu mereka yang terhilang dan terabaikan.

Jadi, SATU-SATUNYA CARA MELAYANI TUHAN ADALAH DENGAN MELAYANI ORANG YANG TERHILANG DAN TERABAIKAN.

Adapun kategori orang yang terhilang dan terabaikan itu adalah seperti yang tercatat dalam Matius 25 : 31-46 :

1. Orang Lapar

Masih ingat ketika Yesus lapar dan Iblis datang mencobaiNya?

Yesus saja yang adalah Tuhan dicobai Iblis ketika lapar apalagi manusia. Perhatikanlah dimana ada kelaparan merajalela maka kuasa Iblispun semakin kuat ditempat itu. Tidak mengherankan kita melihat orang-orang kelaparan dapat menyerbu sebuah tempat dan membawa barang-barang yang kelihatannya mustahil dapat diangkat oleh orang kelaparan.

Sebuah penghinaan kepada dunia ketika gedung-gedung gereja berdiri dengan megah, dibangun dengan uang sampai milyaran rupiah, dimasuki oleh orang-orang kaya dan mengajarkan kasih dari panggung-panggung mimbarnya tetapi tidak pernah sekalipun memberi kontribusi nyata bagi pengurangan kemiskinan. SANGAT IRONIS!

2. Orang Haus

Ketika dunia berlomba dengan kesuksesan, maka makin banyak orang yang kesepian, haus kasih sayang, haus kepedulian. Dari sudut pandang ekonomi dan ketenaran mereka adalah orang-orang yang paling sukses. Terlalu banyak yang kita dengar sekarang ini tentang artis yang kehidupannya hancur karena keluarga berantakan, narkoba, perilaku seksual tak normal, dsb.

Kehausan akan persahabatan yang tulus dirindukan oleh semua orang. Dunia semakin kekurangan orang yang bersahabat bukan untuk menerima imbalan tetapi karena ketulusan untuk menjadi sahabat. Sebagai gereja/manusia Kristus yang adalah agen pembawa kasih sayang yang tulus kepada semua orang, sudahkah kita menjawab kebutuhan manusia akan ini.

Janganlah kita menjadi alergi dengan dunia karena kita terlalu dicekoki oleh pernyataan ”persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Tuhan” sehingga kita terlalu egois hanya mengasihi mereka yang layak kita kasihi bukan memikirkan apakah orang-orang ini diciptakan dan dikasihi Tuhan juga.

3. Orang Asing

Orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang yang tidak ”sejenis” dengan keyakinan kita. Kita selalu berpikir bahwa mereka terlalu keras hati sehingga sepertinya Kabar Baik ini tidak mungkin mereka terima sehingga mereka layak menjadi penghuni kerajaan kegelapan atau neraka jahanam itu.Sikap kita terhadap orang-orang ini adalah senyuman ketus, tidak tulus, merasa diri paling benar, meremehkan bahkan menjauhi mereka.

4. Orang Telanjang

Adalah kategori orang-orang yang terbuang, termarginalkan dalam masyarakat. Mereka dianggap sebagai sampah dan beban masyarakat dalam mencapai kemajuan korporat. Mereka dihina sebagai orang-orang yang tidak meningkatkan kehidupan mereka sehingga tetap hidup dengan kondisi yang paling memprihatinkan. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang telah ditakdirkan hanya untuk terus menerima belas kasihan dari orang lain dan selalu bergantung dari kemampuan orang lain.

5. Orang Sakit

Orang yang sakit secara fisik tetapi juga semua orang yang sakit secara jiwa.Mereka adalah orang-orang yang tertekan, strees oleh karena pekerjaan,keluarga dan banyak hal lainnya. Mereka membutuhkan kepedulian.

6. Orang dalam Penjara

Mereka yang terpenjara akan masa lalu mereka, terpenjara dalam rasa malu yang begitu mendalam, terpenjara keminderan, dsb.

Kalau kita melihat hal-hal tersebut di atas, sangat benarlah apa yang dikatakan Yesus, ”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang ”.

Kita seharusnya malu dengan fakta bahwa gereja yang merupakan satu-satunya duta perubahan Kerajaan Sorga di dunia sibuk dengan hal-hal yang tidak penting seperti mengurus seremonial keagamaan, membangun fasilitas yang jauh dari tujuan menjadi jawaban bagi masalah dunia.

Muhamad Yunus (penerima Nobel Perdamaian) telah menjadi inspirasi buat orang-orang yang seharusnya dipedulikan gereja. Grameen Bank miliknya telah menjadikan salah satu negara termiskin dunia Bangladesh perlahan namun pasti keluar dari keterpurukan.

Maafkan teman dengan pernyataan ini, apapun aktivitas gerejawi kita memang baik tapi tanpa fokus pada pemberdayaan orang-orang, ternyata kita sedang tidak melayani Tuhan.

Ketika para murid Yesus sedang memperdebatkan siapa yang terbesar diantara mereka, maka Yesus yang diakui mereka sebagai Guru dan Tuhan mendefinisikan Orang Besar, Orang Terkemuka, Orang Penting sebagai orang yang melayani sesamanya, orang yang rela menghambakan dirinya untuk orang lain.

Melayani bukan untuk hidup, tapi hidup untuk melayani
date Kamis, 13 Agustus 2015



JBlogs---Siapa yang tidak mengenal tokoh yang satu ini. Tentu sebagai pengikut Kristus tokoh ini merupakan tokoh legenda. Mengapa demikian? karena satu-satunya manusia pertama pembuat kapal besar adalah Nabi Nuh bahkan sebelum Titanic dibuat, Nuh sudah terlebih dahulu membuatnya. Meskipun peralatan pada zaman itu tidak secanggih dengan zaman sekarang. Tentu jika pekerjaan membuat kapal besar di zaman sekarang tidak sesulit yang
dialami oleh Nuh, meskipun peralatan nabi Nuh terbatas, namun dia memiliki ALLAH yang tidak terbatas.
date Rabu, 12 Agustus 2015

JBLogs---Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo.Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah.

Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.
date Kamis, 09 Juli 2015

Jblogs---Siapa yang tidak kenal dengan Ir.Basuki Tjahaja Purnama atau  lebih familiar dipanggil AHOK. Semua lapisan masyarakat di pelosok tanah air tentu begitu kenal dengan sosok yang tegas dan ceplas ceplos. Mungkin sebagian besar masyarakat mengenalnya lewat Media Televisi, majalah, koran maupun media Online. Begitu banyaknya masyarakat yang mengenal ahok namun hanya lewat media televisi nasional. Lewat aksinya dan tingkahnya yang tegas, pemberani dan ceplas ceplos, tidak sedikit masyarakat  yang merasa terganggu  apalagi mereka yang memiliki kepentingan
date Kamis, 02 Juli 2015
“Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan di tambahkan kepadamu”
Matius 6 : 33

Saya seringkali mendengar kalimat ”uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang”. Memang tak dapat di sangkal, bahwa untuk hidup kita membutuhkan uang . Untuk sekolah, untuk makan, bahkan untuk masuk ke toilet pun kita harus membayar, dll.

Saya pun teringat dengan sebuah ayat yang sering kita dengar dalam Mat 6 : 33, di dalam ayat tersebut berkata carilah dahulu Kerajaan Allah. Ayat tersebut merupakan salah satu prinsip Allah untuk kehidupan kita, juga membantu kita dalam menyusun prioritas hidup kita. Memang terlihat bertolak belakang dengan prinsip di dunia ini, no money no life. Akan tetapi perhitungan Tuhan bukanlah perhitungan yang biasa, namun luar biasa.

Salah satu tokoh alkitab yang hidupnya sukses adalah Ishak, dalam alkitab ia mempunyai banyak harta. Hal yang dilakukan Ishak untuk mencapai kesuksesannya hanya 3 hal, yaitu setiap ia berpindah tempat hal pertama yang ia lakukan adalah Membangun mezbah, setelah itu ia membangun kemah dan yang ketiga ia menyuruh hambanya untuk menggali sumur.

Yang di maksud dengan 3 hal di atas adalah bagaimana kita menyusun prioritas hidup kita dan menggunakan prinsip Allah dalam hidup kita:
1. Membangun mezbah berarti hubungan pribadi kita dengan Tuhan
2. Membangun kemah berarti pelayanan kita di dalam keluarga
3. Menngali sumur berarti pekerjaan kita atau pelayanan kita yang lainnya

Begitu banyak orang yang sudah menempatkan Tuhan di posisi paling atas dan mereka merasakan berkat yang luar biasa. Bagaimana dengan diri kita saat ini? Pilihan berada di dalam diri kita. Saya berharap kita pun bisa merasakan kesuksesan di dalam hidup kita dengan menerapkan apa yang di lakukan Ishak dan prinsip di dalam Tuhan ”Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan di tambahkan kepadamu (Mat 6 : 33)”

Prinsip Tuhan adalah kunci kesuksesan dalam hidup

Sumber : Email
date Rabu, 28 April 2010














date Rabu, 10 Maret 2010

Setiap hari kita berinteraksi dengan begitu banyak orang. Di keluarga, di tempat kerja, di sekolah, atau dimanapun kita akan membuat hubungan dengan begitu banyak orang. Tidak jarang, tiba-tiba timbul persoalan atau juga konflik dalam hubungan kita dengan orang lain. Tapi, itulah hidup! Namun, bagaimana kita menyikapi konflik tersebut? Apakah kita percaya bahwa Tuhan bisa memakai orang-orang di sekitar kita, bahkan yang sedang berkonflik dengan kita, untuk membentuk karakter dalam hidup kita? Jika kita ingin memaknai hidup dengan cara seperti itu, kita perlu 4 prinsip hidup berikut dalam berhubungan dengan orang lain :

1. Jagalah hati. Firman Tuhan berkata : " Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Ketika kita menerima kata-kata atau perlakuan yang menyakitkan, jagalah hati. Jika kita bisa menjaga kondisi hati kita untuk tidak mudah terpengaruh emosi dan tindakan orang lain, kita akan mampu melepaskan pengampunan dan lepas dari belenggu sakit hati.

2. Jagalah perkataan. Kita tidak hanya perlu memperhatikan apa yang kita ucapkan, tetapi juga cara mengucapkannya. Ada kalanya hanya karena salah ucap, atau nada suara dan ungkapan sinis bisa memancing sebuah pertengkaran. Hindarilah perkataan-perkataan yang tajam dan tidak perlu.

3. Jangan ungkit kegagalan masa lalu. Ingat, mungkin kita sedang bicara dengan orang yang pernah gagal di masa lalu. Daripada mengungkit-ungkit masa lalu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman, lebih baik membicarakan hal-hal yang sekarang.

4. Jangan menunjukkan perkataan yang sombong. Tidak perlu memuji diri karena sebuah perbuatan yang pernah kita lakukan. Sikap rendah hati adalah kunci dalam menjalin komunikasi yang positif. Belajarlah untuk bersukacita ketika orang lain menerima pujian, sekalipun saat itu kita pun layak menerimanya.

Belajarlah setiap hari untuk mendatangkan damai sejahtera bagi setiap orang.

" ...sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. "
( 1 Tesalonika 4 : 12 )
date Senin, 08 Maret 2010

Kenalan yah teman-teman

Foto saya
Palu, Sulawesi-Tengah, Indonesia
Keingintahuan akan pengetahuan