Sebab di dalam Dia...pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya (Efesus 1:7)

Seorang wanita mengaku kepada saya bahwa ia sudah berbohong tentang saya. Kemudian ia minta agar saya memaafkannya. Saya berkata kepadanya bahwa saya memaafkannya. Ia memegang kata-kata saya dan sejak itu hubungan kami kembali baik.

Tetapi apa yang mungkin terjadi seandainya ia mendesak saya dengan pertanyaan seperti, "Apakah saya menunjukkan cukup penyesalan atas apa yang sudah saya perbuat?" dan "Dapatkah saya membelikan Anda sesuatu untuk menunjukkan bahwa saya sungguh-sungguh? " Saya akan sangat tersinggung. Seandainya demikian, berarti ia lebih menghargai nilai penyesalannya daripada integritas diri saya.

Saya percaya bahwa Allah sangat berduka bila kita yang percaya kepada-Nya terus-menerus dibebani oleh perasaan sesal yang mendalam dan merasa bersalah. Firman Allah mengatakan bahwa kita ditebus dan diampuni "menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Efesus 1:7). Satu-satunya persyaratan untuk pengampunan dan penyucian tiap-tiap hari adalah pengakuan (1Yohanes 1:9).

Jika demikian, mengapa kita terus-menerus berduka atas dosa-dosa kita, mengakui dosa yang sama berulang-ulang? Marilah kita memusatkan diri kepada-Nya dan bukan kepada diri kita sendiri. Yakini integritas-Nya dengan berpegang pada kata-kata-Nya.

Ingatlah, pengampunan kita bergantung pada karakter-Nya sebagai Pengampun yang tak terbatas, bukan pada usaha kita untuk memperolehnya. Yang penting adalah sasaran percaya kita.

Could my tears forever flow,
Could my zeal no respite know,
These for sin could not atone --
Thou must save, and Thou alone. --Toplady

IMAN KITA DI DALAM ALLAH MUNGKIN TIDAK BESAR
TETAPI KITA BERIMAN KEPADA ALLAH YANG BESAR
date Kamis, 08 April 2010
Damai sejahtera berbicara mengenai Tuhan tinggal dan berbicara dalam hidup kita.

Kolose 3:15
"Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. "

Dalam kehidupan kita di dunia ini pasti pernah merasakan yang namanya ketakutan. Ketakutan tidak mempunyai pasangan hidup, ketakutan dalam hal keuangan, ketakutan akan kegelapan, ketakutan tidak bisa menjadi orang tua yang baik, dan ketakutan-ketakutan hidup lainnya. Pernahkah kita secara sungguh-sungguh mencari jawaban, ‘mengapa saya menjadi takut?'

Paulus adalah salah seorang rasul yang dikenang sampai sekarang ini sebagai rasul yang menulis banyak kitab di dalam perjanjian baru. Dalam satu tulisannya kepada jemaat Kolose, ia mengingatkan jemaat di kota tersebut untuk memelihara damai sejahtera Kristus yang tinggal di dalam hidup mereka.

Paulus sadar bahwa bila damai sejahtera itu hilang maka iman jemaat Kolose akan gampang digoyahkan oleh Iblis. Mereka akan mudah menjadi takut. Begitupun sebenarnya dengan hidup orang-orang Kristen saat ini.

Orang-orang Kristen yang hidup di bumi ini sebenarnya tidak perlu takut akan hal apapun apabila damai sejahtera itu tinggal dalam hidup mereka. Damai sejahtera berbicara mengenai Tuhan tinggal dan berbicara dalam hidup kita. Namun, mengapa kita masih takut? Jawabannya adalah karena kita membiarkan Iblis berbicara dalam hidup kita.

Iblis itu licik dan tahu kelemahan manusia. Ia menggunakan hal-hal nyata untuk menakut-nakuti manusia hingga kehilangan damai sejahtera. Ketika kehilangan damai sejahtera, ketakutan itulah yang tinggal dan menyelimuti hidup manusia.

Oleh karena itu, mulailah Anda menutup telinga atas bisikan-bisikan si jahat dan mulai mendengar suara Tuhan yang memberi kekuatan untuk menjalani hari-hari ke depan di bumi ini.

Ketakutan adalah ciri orang yang menomorduakan suara Tuhan, dan lebih mendengarkan suara si jahat

"Apapun juga yang kamu lakukan, perbuatlah semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
date
Satu kali, saat berjalan pulang dari gereja, seorang pendeta bertemu seorang bapak yang ia tahu tadi tidak datang ke kebaktian. “Halo, Pak.Mengapa tadi tidak datang ke kebaktian ?” Tanya pendeta itu. Bapak itu lalu menceritakan sikap seorang majelis yang minggu lalu sungguh menjengkelkannya. “Oh, begitu. Lalu mengapa Anda tidak pulang dan melampiaskannya dengan memukul istri anda saja?” sahut sang pendeta. “Lho? Pak pendeta ini bagaimana? Istri saya kan tidak salah apa-apa.” Jawab si bapak dengan keheranan. “Nah, Tuhan pun tidak punya salah apa-apa dengan anda bukan?”

Jangan menendang kucing jika anda digigit anjing. Tentu saja, ilustrasi diatas bukannya ingin mengatakan bahwa beribadah di gereja adalah hal yang terpisah, bahwa hal itu dapat dilakukan tanpa perlu menjalin hubungan yang baik dengan para jemaat dan para hamba Tuhan di gereja. Justru, kita harus ingat, bahwa saat kita melakukan sesuatu kepada sesama kita berarti kita juga melakukan sesuatu kepada Tuhan. Jika Tuhan adalah Kepala Gereja, bagaimana mungkin kita mencintai kepala tapi membenci tubuh-Nya? Dan jika suatu saat kita mungkin kesal dengan beberapa oknum di gereja, apakah kekesalan itu layak untuk ditukar dengan hubungan kita dengan Tuhan.

Mulailah belajar melihat sesama dan persekutuan dengan saudara seiman kita dalam kerangka ini. Mengasihi Tuhan berarti juga mengasihi sesama. Bahkan Alkitab menyatakan, jangan kita melayani dan memberi persembahan pada Tuhan jika hati kita masih ada permasalahan dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, jangan sampai pelayanan dan persekutuan kita yang seharusnya untuk memuliakan Tuhan, justru dilakukan hanya demi menyenangkan manusia saja. Singkatnya, ibadah, pelayanan, dan persekutuan kita merupakan suatu kesatuan, yang semua didasari oleh kasih pada Tuhan dan sesama. Sudahkah kita melakukannya?
Rata Penuh
Jangan menendang kucing jika Anda digigit anjing.
date
“PenyertaanMu sempurna, rancanganMu penuh damai, aman dan sejahtera walau ditengah badai…”

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, ?Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, ?Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.
Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.?
date
With human minds we emotionally bind ourselves to things we cannot see.
Hopelessly setting a course that will deprive us of the strings of peace that were given to you and me.

We often pass up rainbows, a spring shower, a sunset, or even just a smile.
Yet in the name of prosperity and growth we'll go the extra mile.

God gave us the ability to
experience the delicate sides of this earth.
But often we don't allow ourselves to fully appreciate what it's worth.

Have you ever whistled with a songbird, been touched by a breeze, or smelt the seasons in the air?
Or did you just consider them daily problems and not ever really care?

Have you ever had a falling leaf placed gently at your feet?
Carried by a loving wind just for you to meet.

Did you let it say good morning friend, or kick it to the side?
Thinking that you're late for work or you'll never catch your ride.

During a crowded traffic jam have you ever looked up high?
To see how God directs the clouds as they go flying through the sky.

What was your thought today as you tumbled out of bed?
"Thank you Lord for this day" or "Man do I feel dead".

You see it's up to us to find these things as we're traveling down life's road.
Because God sends these gifts to cross our paths and relieve or heavy load.

- David Waddell
date Selasa, 06 April 2010
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Roma 8:26

Nama Roh Kudus berarti Pembela atau Penolong. Dia menolong kita saat berada dalam kesukaran dan pencobaan. Roh Kudus juga bekerja untuk membukakan pintu gerbang permintaan doa. Dia mengajar dan memberitahukan kita tentang rahasia permintaan doa, lalu menaikkan semua permohonan kita kepada Bapa, sebab ...kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; (ayat 26). Seringkali kita tidak tahu hal-hal yang seharusnya kita doakan, termasuk segala keperluan kita sekali pun. Kita tidak tahu bagaimanamemohonkannya kepada Tuhan dengan benar.

Roh Kudus menyatakan pada kita tentang keperluan-keperluan kita sehingga kita diajar untuk memiliki penyerahan diri dan kerendahan hati. Roh Kudus juga meletakkan suatu beban permintaan doa kepada setiap hati yang didiamiNya. Terkadang beban yang kita alami begitu berat sampai tak terucapkan, sehingga yang dapat kita lakukan hanyalah mengerang dan meratap kepada Allah. Saat itulah Roh Kudus membantu kita, ...Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. (ayat 26). Barangkali kita tidak pernah mengerti sepenuhnya makna semua doa yang kita ucapkan, namun jawaban Tuhan selalu lebih besar dari permintaan kita. Doa yang kita panjatkan itu ditafsirkan dan disempurnakan oleh Roh Kudus, kemudian Allah menanggapinya menurut hikmat dan kasihNya yang tidak terbatas. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27).

Allah selalu menyelidiki hati serta mendengarkan doa kita, tetapi bukan seruan-seruan kita yang keras yang didengarkanNya, melainkan pikiran Roh Kudus yang ada di dalam kita karena Dialah yang diakui Bapa selaku pemimpin dan penolong sejati kita, bukan ucapan-ucapan kita. Jika kita hidup dipimpin Roh Kudus dan terlatih mengenal bisikanNya, kita tidak akan menyerukan doa sia-sia yang berasal dari dorongan hati yang salah, melainkan berdoa menurut pimpinanNya sehingga sesuai kehendak Allah.
date
Karier berasal dari kata bahasa Inggris, "career", yang berasal dari bahasa Perancis, "carriere", yang berarti suatu jalan atau suatu "highway". Maka dari itu, dalam karier ada peta, ada rencana, ada tujuan yang jelas, kapan kita akan berhenti makan, dan kapan kita akan berhenti untuk mengisi bensin. Organ tubuh yang dipakai dalam berkarier adalah mata.s

Sedangkan, dalam suatu panggilan, organ tubuh yang dipakai adalah telinga. Fokusnya adalah suara. Panggilan esensinya adalah hubungan antara Yang memanggil dan yang dipanggil. Tidak ada tujuan yang dapat dilihat. Mungkin dapat diartikan dengan berserah pada Yang memanggil dalam melakukan segala sesuatu. Tuhan yang merencanakan, bukan kita.

Dalam berkarier, kita butuh persyaratan tertentu. Jika kita dipilih menjadi pemimpin misalnya, kita sebaiknya memiliki setidaknya beberapa persyaratan untuk dapat menjadi seorang pemimpin -- pengalaman memimpin, jiwa pemimpin, dsb.. Lain halnya dengan panggilan, panggilan tidak membutuhkan persyaratan tertentu untuk melakukan sesuatu hal.

Musa mengalami kerancuan saat ia dipanggil untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia awalnya mengganggap panggilan itu sebagai karier. Ia ragu apa ia memenuhi syarat menjadi pemimpin. Namun bersyukur, ia akhirnya percaya pada Allah dan menjalani panggilannya itu bukan sebagai karier, namun benar-benar sebagai panggilan -- berserah penuh kepada Allah.

Dan luar biasa apa yang terjadi saat kita berserah penuh pada Allah. Itulah yang dialami Musa -- hal yang luar bisa dan nampaknya mustahil, yang tergambar dari tulisan singakat di bawah ini.

***

Musa dan bangsa Israel berada di tengah gurun, namun apa yang ia harus perbuat untuk mereka? Mereka harus diberi makan, dan memberi makan 2 atau 3 juta orang itu membutuhkan banyak sekali makanan.

Menurut seorang jendral militer, dikatakan bahwa Musa harus memiliki 1.500 ton makanan setiap harinya untuk memberi makan bangsa Israel.

Apakah Anda tahu bahwa untuk membawa makanan sebanyak itu setiap hari, dibutuhkan dua kereta barang, yang masing-masing panjangnya 1 mil! Selain itu, Anda juga harus ingat, mereka ada di tengah gurun, jadi mereka perlu kayu bakar untuk memasak. Untuk itu, dibutuhkan 4.000 ton kayu bakar dan beberapa kereta barang lagi, yang masing-masing panjangnya 1 mil, hanya untuk sehari. Dan coba pikirkan, mereka ada di gurun selama 40 tahun!

Mereka juga perlu air. Jika mereka hanya butuh air untuk minum dan kebutuhan cuci-mencuci, maka air yang dibutuhkan adalah 11 juta galon per hari. Dan kereta barang dengan tanki-tanki air yang panjangnya 1.800 mil dibutuhkan juga hanya untuk mengangkut air!

Selain itu, mereka juga harus menyeberangi Laut Merah yang luas. Jika mereka melalui jalur yang sempit, dalam dua baris, panjang setiap baris adalah 800 mil dan akan butuh waktu 35 hari siang dan malam untuk menyeberanginya. Jadi, harus ada ruang di Laut Merah yang lebarnya 3 mil sehingga mereka bisa berjalan dalam 5.000 barisan/berjajar 5.000 orang untuk menyeberanginya dalam 1 malam.

Setiap mereka berkemah untuk tidur, tanah seluas dua per tiga negara bagian Rhode Island akan diperlukan, atau sekitar 750 mil persegi ... bayangkan! Apakah Anda pikir Musa memikirkan hal itu saat ia meninggalkan Mesir? Saya rasa tidak! Musa percaya pada Tuhan. Tuhan yang menyediakan semuanya itu untuknya.

Kini apakah Anda masih berpikir Allah kesulitan memenuhi segala kebutuhan Anda?

Sumber : Jawaban.com


date
Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.... Janganlah membuang aku pada masa tuaku (Mazmur 71:6,9)

Ketika masih muda, kita tak sabar menunggu masa dewasa. Ketika sudah tua, kita merindukan kembali masa muda yang sudah berlalu. Sungguh ironis!

Allah ingin kita menerima setiap masa dalam hidup dengan sukacita. Berapa pun usia kita, Dia meminta kita berjalan menuju kehendak-Nya, dan menerima setiap pergumulan yang Dia izinkan terjadi seiring dengan kekuatan yang Dia sediakan.

Seorang wanita yang menghadapi cobaan karena bertambahnya usia bertanya kepada J. Robertson McQuilkin, seorang utusan Injil, "Mengapa Allah membiarkan kita menjadi tua dan lemah?" McQuilkin berpikir sejenak dan menjawab, "Saya pikir, Allah telah merancang bahwa kekuatan dan kecantikan orang muda bersifat jasmani. Namun, kekuatan dan kecantikan usia tua bersifat rohani. Lambat laun kita kehilangan kekuatan dan kecantikan yang sementara itu, sehingga dapat memusatkan perhatian pada kekuatan dan kecantikan yang kekal. Dengan demikian kita berhasrat meninggalkan bagian dari diri kita yang sementara dan memburuk, dan sungguh-sungguh merindukan rumah abadi kita. Jika kita tetap muda, kuat dan cantik, kita tidak akan pernah mau meninggalkannya."

Apakah Anda berada di musim semi kehidupan? Percayalah pada waktu Allah dalam mewujudkan impian Anda. Apakah Anda berada di musim panas atau musim gugur? Hadapilah tantangan yang Anda jumpai setiap hari. Dan bila Anda merasakan dinginnya musim dingin, berusahalah mengenal Allah dengan lebih baik. Kehadiran-Nya dapat menjadikan setiap masa dalam hidup Anda penuh dengan kekuatan dan kecantikan.

Only this hour is mine, Lord --
May it be used for Thee;
May every passing moment
Count for eternity. --Christiansen

PENYERAHAN DIRI KEPADA KRISTUS BUKANLAH PILIHAN SATU KALI MELAINKAN TANTANGAN SETIAP HARI
date
Bacaan hari ini: Kejadian 39:1-12
Ayat mas hari ini: Kejadian 39:12
Bacaan Alkitab Setahun: 1Tawarikh 17-19

Suatu kali ada seorang pemuda yang bertanya demikian, “Apa yang harus saya lakukan jika suatu hari saya jalan-jalan di pantai lalu melihat seorang wanita dengan pakaian ala kadarnya? Kan pada saat itu saya tidak
sengaja melihatnya.” Jawabannya bukan pura-pura tidak melihat, menutup mata, atau mengalihkan pandangan ke arah yang lain, tetapi “LARILAH”. Pergilah dari tempat itu jangan berdiam diri. Mengapa? Karena kita harus menyadari kelemahan kita untuk jatuh dalam dosa.

Apa yang dilakukan oleh Yusuf sangatlah tepat. Ketika godaan datang, ia tidak cuma “pura-pura tidak melihat”, tetapi benar-benar lari ke luar. Padahal saat itu sangatlah mudah bagi Yusuf untuk berbuat dosa sekaligus menutupinya. Pertama, dalam rumah Potifar pada saat itu sepi, tidak ada siapa-siapa. Kedua, Yusuf memiliki kuasa yang sangat besar untuk menutup mulut semua pegawainya agar tak memberitahukan perselingkuhannya kepada Potifar. Yusuf adalah seorang kepala rumah tangga yang mana semua pegawai di rumah itu harus tunduk kepada perintahnya, terlebih jikalau istri potifar terlibat disana. Jadi, secara posisi Yusuf berada di posisi yang aman untuk berbuat dosa. Akan tetapi, Yusuf tak melakukannya, dan ia tidak diam di tempat, tetapi ia lari meninggalkan godaan tersebut.

Dalam hidup ini, jangalah sekali-kali merasa kuat terhadap godaan. Seperti Tuhan Yesus juga pernah mengingatkan, “roh memang penurut tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Intinya jangan “bermain-main” dengan godaan, sebab akan ada satu titik di mana kita malah akan terseret. Jangan! Larilah menjauh.
JIKALAU ADA SINGA DI DEPAN JALAN, KENAPA TIDAK MENCARI JALAN LAIN UNTUK MENGHINDARINYA
date
Suatu hari John mengundang ibunya makan malam di apartemennya bersama dengan teman se-apartemennya.

Sewaktu makan, ibunya selalu memperhatikan betapa cantiknya teman se - apartemen John ini.

Sang ibu sudah lama memendam kecurigaan adanya hubungan istimewa antara John dan teman se-apartemennya dan oleh sebab itu menambah keingintahuan sang ibu tentang hubungan anaknya itu.

Hingga malam hari, sang ibu memperhatikan bagaimana kedua insan itu berinteraksi.... sang ibu mulai ber-tanya2 dalam hatinya ada apa dibalik hubungan John dan temannya itu.Membaca pikiran sang ibu, John berkata," Saya tahu apa yang ada dalam pikiran ibu, tetapi saya jamin, Julie dan saya hanyalah TEMAN BIASA saja."

Satu minggu kemudian , Julie mengatakan pada John, "Sejak ibumu datang makan malam, saya tidak dapat lagi menemukan sendok perak kuah itu. Kau tidak akan mengira jika Ibumu yang membawanya bukan ?."

John berkata,"Aku meragukan hal itu, tetapi untuk memastikannya aku akan menulis suratpadanya."

Lalu John menulis suratnya sebagai berikut

Ibu yang tercinta,

Saya tidak mengatakan ibu "mengambil" sendok kuah dari apartemenku, dan saya juga tidak mengatakan ibu

"tidak mengambil" sendok kuah itu. Tetapi faktanya adalah bahwa sendok kuah itu raib sejak ibu datang makan malam disini.

Beberapa hari kemudian John menerima surat dari ibunya yang berbunyi :

Puteraku sayang.

Ibu tidak mengatakan kau "tidur" dengan Julie, dan ibu juga tidak mengatakan kau "tidak tidur" dengannya.

Tetapi faktanya adalah... bila ia tidur ditempat tidurnya sendiri,ia akan menemukan sendok kuah itu disana.

Ibumu tercinta.
date Senin, 05 April 2010

Kenalan yah teman-teman

Foto saya
Palu, Sulawesi-Tengah, Indonesia
Keingintahuan akan pengetahuan