“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” 1 Korintus 4:1.

Istilah hamba Tuhan kian marak dalarn pelayanan kekristenan masa kini di mana banyak orang bangga bila gelar hamba Tuhan tersebut melekat kepadanya, tanpa memahami makna sesungguhnya kata hamba tersebut.
Seiring berjalannya waktu, pengertian kata hamba Tuhan secara perlahan mengalami pergeseran. Sering ada anggapan bahwa menjadi hamba Tuhan berarti harus mendapatkan perlakuan khusus atau service plus, beroleh pengormatan di mana pun melayani dengan segala fasilitas yang memadai. Hal ini tidak seratus persen keliru! Itu adalah bonus atau berkat yang mengikuti pelayanan hamba Tuhan. Namun jangan sampai hal ini mengalihkan motivasi kita sehingga tidak murni lagi untuk mencerminkan jiwa pengabdian, melainkan hanya tuntutan profesi yang menyebabkan kita ke luar dari jalur Tuhan.

Di awal suratnya yang ia tulis kepada jemaat di Roma rasul Paulus menyebut dirinya hamba Yesus Kristus: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” (Roma 1:1), begitu juga di hadapan jemaat Korintus. Paulus menyadari benar makna kata hamba yang melekat pada dirinya, yaitu tidak lebih dari seorang budak. Sebagai budak ia harus mengabdikan diri dengan segenap jiwa dan raga untuk Tuannya. Jadi hamba Tuhan juga bisa diartikan orang-orang yang membaktikan setiap nafas hidupnya untuk Tuhan, melepaskan segala kenyamanan duniawi, tunduk kepada pemerintahan sorgawi dan tidak punya hak untuk menuntut, serta bukan seorang bos. Paulus mengakui dirinya adalah hamba Yesus Kristus. Ada pun jabatan sebagai rasul diberikan oleh Kristus kepadanya, bukan ia sendiri yang mengangkat dirinya sebagai rasul. Tetapi Paulus tetap mengedepankan status dirinya yang tidak lebih dari seorang hamba. Dalam perjalanannya sebagai seorang hamba Tuhan Paulus melayani dengan tulus, tidak bersikap menuntut, tidak mencari keuntungan diri sendiri di balik pelayanan, melainkan mengabdi dengan sungguh-sungguh demi kemajuan Injil di muka bumi ini.

Mari kita melayani Tuhan dengan penuh pengabdian, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,..” (Matius 20:28).
date Selasa, 13 April 2010
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?; Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.

Bagaimana kita bisa sungguh-sungguh membiarkan seseorang mengenal diri kita ketika kita sendiri bahkan tidak mengenal siapa kita? Coba pikirkan apa yang seseorang pernah katakan berikut ini, "Ketika dua orang bertemu, sesungguhnya ada enam pribadi yang hadir: dua dari cara mereka melihat diri mereka sendiri, dua dari cara mereka melihat orang lain, dan dua dari kenyataan diri mereka sesungguhnya. "

Dalam setiap diri manusia pasti memiliki sisi yang dinamakan sisi yang tersembunyi. Sisi tersembunyi manusia ini biasanya adalah bagian yang diketahui oleh orang tersebut, tetapi dijaga agar orang lain tidak mengetahuinya.

Sisi tersembunyi yang dimiliki manusia, baik itu Anda maupun saya adalah sisi yang diberikan Allah dalam kehidupan kita. Sisi ini menunggu untuk diakui dan dibongkar keluar. Sisi ini merupakan harta terpendam yang ditanam oleh Tuhan sendiri, menunggu untuk diungkapkan dalam hidup kita. Begitu pun dengan apa yang dilakukan oleh Adam ketika jatuh dalam dosa.

Adam menyembunyikan diri dari Allah ketika dia melanggar aturan Taman Eden dan ikut memakan buah terlarang. Pada saat memakan buah tersebut, ia semakin menyadari hal yang memalukan dari dirinya dibandingkan dengan sebelum ia tidak taat. Rasa malu adalah satu kekuatan yang sangat kuat dan menyakitkan, yang mendorong kita untuk bersembunyi. Rasa malu ini perlu disembuhkan. Tetapi, di balik rasa malu sering kali ditemukan hal-hal terlarang yang telah kita perbuat.

Identitas kita begitu terikat dengan keakraban dengan Tuhan, ketika kita gagal untuk tetap berada dalam kebebasan yang telah Dia berikan bagi kita, kita tidak dapat menikmati berjalan bersama-Nya di dalam "hari yang sejuk" (yang dalam bahasa Ibrani berarti hari kemuliaan Tuhan). Kita menyembunyikan diri kita di balik pepohonan ketika Tuhan hadir mendekati kita, sama seperti yang diperbuat oleh Adam.

Kejatuhan Adam sebenarnya bukanlah dikarenakan oleh pihak luar yang membuat dirinya kehilangan kemuliaan Allah, melainkan karena pilihan-pilihan yang telah diambil sebelumnya. Adam memilih untuk mempercepat pengenalannya terhadap Allah dengan cara yang tidak benar, yakni melanggar larangan yang Allah berikan.

Akhir dari pelanggaran yang Adam lakukan adalah hubungannya dengan Allah menjadi semakin menjauh dan kebenaran yang dia miliki sebelumnya telah tercemari dengan dosa. Pada saat Allah mencari Adam,yang diinginkan oleh Allah ketika itu bukanlah posisi adam yang berada di balik pohon melainkan keberadaan dirinya. Namun, Adam tidak mengerti pertanyaan oleh Penciptanya sehingga jawaban yang keluar pun tidak seperti yang diharapkan oleh Allah. Adam mulai mencari alasan. Dia sudah tidak murni lagi dihadapan Tuhan.

Adam mulai mempersalahkan Tuhan dan istrinya yang kemudian pada gilirannya menyalahkan si ular. Ketidakmampuannya untuk mengakui pilihan, posisi, dan kenyataannya yang ada sekarang telah mendorongnya untuk menekan kebenaran dalam jiwanya. Dengan memakan buah terlarang itu jiwa Adam terbelah. Kematian dialami jiwanya dan ia sekarang tidak menikmati kebersamaanya dengan Tuhan.

Sisi tersembunyi ini merupakan tempat putusnya hubungan yang nyata, dan menghalangi keintiman serta pengungkapan diri yang murni. Sisi tersembunyi ini lebih berpotensi merusak daripada sisi tak terlihat karena sisi tersembunyi tersebut menekan hal-hal begitu dalam pada alam "bersentuhan" dengan alasan mengapa kita melakukan dan mengatakan hal-hal tertentu. Oleh karena itu diperlukan adanya pemulihan dan penyembuhan terhadap hal-hal tersembunyi ini.

Sebelum mengetahui bagaimana memulihkan dan menyembuhkan sisi tersembunyi dalam hidup kita, ada baiknya mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi penghalang kita memasuki sisi tersembunyi tersebut.

Yang menjadi penghalang kita dapat memasuki sisi tersembunyi kita adalah perasaan, penilaian, dan keyakinan yang kita miliki. Mereka setiap kali menampakkan diri, seperti katak di lumpur, ketika seseorang terlalu mendekati daerah terlarang dari hidup kita. Kita "bersuara parau" di dalam ketakutan dan rasa sakit ketika seseorang menginjak sisi tersembunyi kita. Kata-kata orang lain dan berbagai kejadian membuat reaksi bawah sadar kita bergolak dalam diri kita hampir secara "spontan". Seseorang bisa mengatakan sesuatu tanpa bermaksud apa-apa, tetapi reaksi kita terhadap perkataannya bisa mengagetkannya dan mengagetkan diri kita sendiri.

Kita mungkin berusaha memperbaiki keadaan dengan mengatakan sesuatu seperti, "Saya tidak bermaksud demikian". Namun, sebenarnya dengan berkata tersebut sebenarnya diri kita sedang berusaha untuk bersembunyi dari orang lain, Tuhan, dan terutam dari persoalan-persoalan yang belum terselesaikan serta dari diri kita sendiri.

Jika kita gagal menghadapi ketiga hal penghalang tersebut, kita tidak akan bisa menghapus dampak ketiganya terhadap realitas kita yang sekarang. Kita mendapati bahwa kita berkali-kali melakukan apa yang coba kita hindari. Akibatnya, sisi tersembunyi kita akan semakin besar dan besar.

Ada empat langkah yang dapat Anda lakukan agar lepas dari sisi terdalam Anda yang telah rusak yang sebenarnya telah dibawa oleh nenek moyang manusia, yakni Adam.

Langkah 1: Berdamai dengan sejarah hidup kita. Sejarah hidup kita yang kelam mungkin tidak akan pernah bisa ubah, tetapi Tuhan memberikan kuasa-Nya agar kita dapat terbebas dari semua masa lalu kita tersebut. Dengan kuasa-Nya, kita bisa mendapatkan pengertian dan kebebasan dari kepahitan penilaian-penilaian kita, berbagai penilaian kita yang lain, dan keyakinan kita yang tidak tepat tentang diri sendiri, orang lain, keadaan kita, dan Tuhan.

Langkah 2: Meminta Roh Kudus untuk meneliti dan menunjukkan kepada kita. Sebuah krisis adalah suatu momen penentuan dalam hidup kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, krisis yang kita hadapi dapat mengantarkan kita memasuki suatu proses yang akan membebaskan kita dari keterbatasan yang telah membelenggu kita. Kita semua membutuhkan pertolongan Tuhan, Seseorang yang Paling Penting, dan orang lain yang peduli menolong kita untuk melakukan pemilahan melalui sisi tersembunyi yang ada dalam hidup kita.

Langkah 3: Memahami sejarah hidup kita. Jika gagal memahami sejarah hidup kita, kita dengan mudah bisa menggagalkan tujuan kita. Adalah maksud Bapa untuk membawa kita dari krisis, melewati proses penyempurnaan, dan mencapai kemuliaan.

Langkah 4: Menyiapkan diri kita - prosesnya akan menyakitkan. Melibatkan Tuhan dan sejarah hidup kita serta menghadapi hal-hal yang ada di dalam lumpur sisi tersembunyi hidup membantu kita untuk melangkah menuju kemuliaan. Walaupun prosesnya sakit, tetapi nantinya kita akan bisa menikmati hasilnya dalam jangka panjang.

Keputusan adalah hal yang penting yang perlu Anda lakukan agar keluar menjadi orang yang jujur kepada Tuhan dan orang sekeliling Anda. Saat Anda mau untuk masuk ke dalam sisi tersembunyi hidup Anda dan menanganinya maka sebenarnya Anda sedang sedang melangkah ke dalam kemuliaan yang telah ia janjikan.
date
One day, when I was a freshman in high school, I saw a kid from my class walking home from school. His name was Kyle. It looked like he was carrying all of his books. I thought to myself, "Why would anyone bring home all his books on a Friday? He must really be a nerd." I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friend the following afternoon), so I shrugged my shoulders and went on.

As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him. They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt. His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him. He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes.

My heart went out to him. So, I jogged over to him, and as he crawled around looking for his glasses, I saw a tear in his eye.
I handed him his glasses and said, "Those guys are jerks. They really should get lives.
He looked at me and said, "Hey, thanks!" There was a big smile on his face. It was one of those smiles that showed real gratitude. I helped him pick up his books, and asked him where he lived. It turned out he lived near me, so I asked him why I had never seen him before. He said he had gone to private school before coming to this school.

I would have never hung out with a private school kid before. We talked all the way home, and I carried his books. He turned out to be a pretty cool kid. I asked him if he wanted to play football on Saturday with me and my friends. He said yes. We hung all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him. And my friends thought the same of him. Monday morning came, and there was Kyle with the huge stack of books again. I stopped him and said, "Damn boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday!". He just laughed and handed me half the books. Over the next four years, Kyle and I became best friends.

When we were seniors, we began to think about college. Kyle decided on Georgetown, and I was going to Duke. I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem. He was going to be a doctor, and I was going for business on a football scholarship. Kyle was valedictorian of our class.

I teased him all the time about being a nerd. He had to prepare a speech for graduation. I was so glad it wasn't me having to get up there and speak.

Graduation day arrived - I saw Kyle and he looked great. He was one of those guys that really found himself during high school. He filled out and actually looked good in glasses. He had more dates than me and all the girls loved him!

Boy, sometimes I was jealous. Today was one of those days. I could see that he was nervous about his speech. So, I smacked him on the back and said, "Hey, big guy, you'll be great!"

He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled. "Thanks," he said. As he started his speech, he cleared his throat, and began. "Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years. Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach... but mostly your friends. I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them. I am going to tell you a story."

I stared at my friend in disbelief as he told the story of the first day we met. He had planned to kill himself over the weekend. He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn't have to do it later and was carrying his stuff home. He looked hard at me and gave me a little smile. "Thankfully, I was saved. My friend saved me from doing the unspeakable."

I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment. I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile. Not until that moment did I realize its depth.

Never underestimate the power of your actions. With one small gesture you can change a person's life. For better or for worse. God puts us all in each other's lives to impact one another in some way. Look for God in others.

"Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble remembering how to fly."
date
Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar seorang motivator yang diwawancara oleh Larry King, CNN, berkata: “Saat engkau memuji Tuhan dan mengagungkanNya dengan kata-kata pujian yang keluar dari hatimu, engkau akan menerima pujian kembali dari Tuhan. Karena memberi pujian adalah sifat keilahian Tuhan yang kita warisi. Itulah sebabnya pujian menyenangkan hati Tuhan, juga hati kita.” Hmm… begini rupanya cara pujian bekerja, pikir saya.

Artinya, memberi pujian dari hatimu akan menyenangkan hatimu sendiri, karena ketika engkau memuji, pujian secara otomatis kembali kepadamu. Hal ini mengingatkan saya pada cara hukum energi fisika bekerja. Tidak satupun molekul di dunia ini pernah musnah, yang terkecil sekalipun hanya dapat berubah bentuk. Begitu pula energi yang dipancarkan melalui pujian, akan berubah bentuk menjadi energi yang mengangkat hati kita, memotivasi semangat kita. Sehingga hati kita akan memancarkan kecantikan batiniah dan dunia menjadi indah karenanya.

Terlebih lagi bila pujian disanjungkan kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta dari hati yang tulus. “KeagunganMu, ya Tuhan, Kemurahan hatiMu, Kemuliaan HadiratMu, membuatku tenggelam dalam haru dan syukur. Engkau yang terbaik dalam hidupku Tuhan, hanya Engkau yang mengerti jiwaku. Tiada yang lain di hatiku selain Engkau.” Bukan saja pujian tulus ini akan menyenangkan hati Tuhan, di hati nuranimu kamu juga akan mendengar sanjungan Tuhan untukmu, “Engkau umatKu yang Kukasihi, engkau spesial di hatiKu, kerendahan-hatimu indah di mataKu, ketabahan hatimu mengharukanKu, kecantikan batinmu menggetarkan hatiKu”. Sejalan dengan kodrat manusiawi yang senang dengan pujian, kata-kata sanjungan ini akan menyenangkan hatimu – dan memancarkan kecantikan batiniahmu.

Beberapa dari kita merasa rikuh bila menerima pujian. Cobalah cari tahu dari dalam dirimu sendiri, mengapa sulit bagimu menerima pujian, sekalipun disampaikan dengan tulus oleh seseorang. Seringkali penyebabnya adalah karena kita merasa tidak layak menerima pengakuan yang mulia tentang diri kita. Kita melihat diri rendah, harganya tidak setinggi pujian yang diberikan.. Atau kita punya persepsi yang salah tentang menerima pujian, di mana kita dituntut menjadi rendah hati dan menerima pujian adalah kesombongan. Tuntutan ini bertentangan dengan hakekat manusiawi, sehingga kerendahan hati kita menjadi kerendahan hati yang palsu karena dipaksakan. Respon kita biasanya berkata, “masak sih?”, atau menangkis “itu kan karena…”. Namun yang paling tidak disukai sang pemuji adalah respon yang justru meninggikan diri seperti “baru tahu ya aku begitu?”. Sesungguhnya ini adalah reaksi yang menutupi malu hatinya karena merasa tidak layak.

Merasa tersipu bila dipuji wajar saja kok, karena kita belum menyadari kualitas yang dipujikan kepada kita. Juga terutama karena kebudayaan saling memuji tidak begitu dikenal di bangsa kita. Di samping itu, inferioritas bangsa kita belum sembuh tuntas akibat penjajahan selama ratusan tahun.. Kakek nenek buyut kita, tanpa disadari oleh mereka, mewariskan kepada kita perasaan inferior ini. Namun dengan gambar-diri yang utuh dan harga-diri yang benar, pujian akan meneguhkan gambaran pribadi yang kita lihat pada diri sendiri. Juga membuat kita semakin mengenal sisi lain diri kita, yang belum pernah kita eksplor namun telah terlihat oleh orang lain.

Cobalah renungkan pertanyaan ini, “What others say comes naturally to you?” Apakah seseorang pernah mengatakan kamu terampil menata ruang, penuh inspirasi, senang berbagi, berotak cemerlang, mudah iba, cepat dan taktis, lembut hati atau berpikir logis? Cobalah kenali sisi dirimu lebih dalam, dan temukan di situasi bagaimana kekuatan potensi ini menonjol.

Dengan tersingkapnya sedikit demi sedikit kekuatan dan potensi yang terkandung di dalam dirimu, kamu akan mengenal dirimu lebih baik hari demi hari. Kamu akan menyadari bahwa hanya Tuhan yang dapat menciptakan kamu demikian sempurna. Dan mulutmu akan dipenuhi dengan pujian kepada Sang Pemberi Potensi. Hatimu akan meluap dengan rasa syukur dan engkau akan berjalan dengan mantap dalam kehidupan. Menyadari bahwa di dalam dirimu engkau memiliki kualitas, ketrampilan, kemampuan, talenta dan rancangan hidup yang sempurna dari Sang Perancang Kehidupan.. Dan segala pujian yang engkau terima tidak berhenti di dirimu sendiri, karena menjadi persembahanmu yang harum kepada Sang Pencipta. Mempersembahkan pujian juga membuatmu terlihat cantik (praise looks good on you). Sehingga pujian tidak lagi membuatmu merasa tidak layak atau tersipu malu. Tetapi semakin meneguhkan hatimu bahwa engkau adalah ciptaan Tuhan yang berharga, mulia dan dikasihi.

Jadilah cantik oleh pujian,

By Grace Sabarus


You are subscribed to email up
date
JBlogs~Hendaklah kamu semua ... penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, ... tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati (1 Petrus 3:8,9 )

Seorang pria yang sedang berduka karena kematian ayahnya berkata
date Senin, 12 April 2010
1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskan pikiranmu dari kesusahan.

3. Hiduplah secara sederhana.

4. Berilah lebih.

5. Kurangilah harapan.

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal.
Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru.

Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata. Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur".

Berjalanlah terus.
Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu,

Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya...

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.

Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.

Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas. Dalam kehidupan jarang akan kautemui seseorang yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.

Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.

Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.

Kita terlalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan-kesalahan pada orang yang telah kita cintai, dari pada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.

Jika kau sungguh-sungguh senang pada seseorang, janganlah kau mencari-cari kekurangannya, kau jangan mencari-cari alasan, kau jangan mencari-cari kesalahannya.

Malahan, kau atasi kesalahan-kesalahan itu, kau terima kekurangan-kekurangan itu dan jangan kau hiraukan alasan-alasan itu

Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah mendapat penggantinya.

Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik.
date
1 Samuel 1:1-13, 20 -
Yesaya 30:15 -

Pernahkah anda meminta Tuhan untuk menenangkan badai yang menerpa hidup Anda, tetapi badai itu justru semakin mengamuk? Hana pernah mengalaminya. Saat ia berseru meminta Tuhan memberinya keturunan, ia malah harus siap menghadapi Penina yang tidak penah berhenti mengejek dan memahitkan hatinya. Bertahun tahun Hana bergumul dengan badai hidup itu dan akhirnya ia keluar sebagai pemenang.

Dalam pelayanan konseling yang saya jalani, saya kerap menekankan pentingnya memiliki ketekunan dan ketenangan hati pada waktu mengalami pergumulan yang panjang kepada mereka yang saya layani. Ketika mereka sudah mulai kehabisan kesabaran untuk bertahan di tengah badai yang bahkan semakin mengamuk, saya akan mengirimkan SMS, “Kadang-kadang Tuhan memang menenangkan badai dalam hidup kita, tapi Dia juga sering membiarkan badai itu mengamuk dan menenangkan hati kita.”

Ketenangan di tengah-tengah badai itu akhinya dimiliki oleh keluarga Beni tatkala mereka belajar bertekun menantikan pertolongan Tuhan. Beni harus kehilangan pekerjaannya saat ada perubahan struktur organisasi di perusahaan tempat ia bekerja. Isterinya mulai kuatir dan menghitung kekuatan tabungan yang mereka miliki. Hari demi hari Beni berdoa bersama kedua orang anaknya, “Tuhan tolonglah suamiku untuk mendapatkan pekerjaan dan seorang atasan yang baik seperti yang pernah dimilikinya dulu. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.” Hampir dua tahun sudah suaminya menganggur, sebagai isteri hatinya sedikit gelisah karena tabungan mereka sudah ludes. Tetapi hatinya kembali tenang tatkala ia masuk ke kamar untuk berdoa. Di suatu sore, saat pulang dari kantor ia disambut oleh kedua anaknya bersama Beni . Ada apa ini?” tanyanya. Anak-anak itu berbisik sambil tertawa. “Sayang, sekarang tunjukkan amplop itu pada mama! pinta Beni . Ia menerima amplop coklat yang ia kira adalah surat dari sekolah anak-anaknya. Dengan perlahan ia menarik secarik kertas dan membacanya. Di kertas itu tertera jabatan, gaji dan nama perusahaan yang akan menjadi tempat Beni bekerja. Ia tersenyum sambil mengangguk puas. Ia kembali terkejut saat melihat bahwa yang bertanda tangan adalah atasan Beni yang dulu. Rasa haru menyelimuti hatinya, ia menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Mujizat ini sulit dipercaya. Tuhan menenangkan badai saat hati anak-anakNya menjadi tenang.

Memang jawaban doa tidak bisa diprogram supaya menjadi seperti yang kita mau, tetapi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan selalu menjawab doa kita dengan benar. Tuhan tidak serta-merta langsung mengabulkan semua permohonan kita, karena Dia punya rencana untuk membentuk hati dan karakter kita. Dengan sukacita jalani proses yang Tuhan izinkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang sabar, tekun dan tetap tenang.

DOA:
Tuhan Yesus anugerahkanlah kepadaku ketekunan untuk berdoa dan ketenangan hati untuk menantikan jawaban dariMu. Dalam NamaMu yang kudus aku berdoa. Amin.


date
There is little story that teaches a lot….

A giant ship engine failed. The ship’s owners tried one expert after another, but none of them could figure but how to fix the engine. Then they brought in an old man who had been fixing ships since he was a young. He carried a large bag of tools with him, and when he arrived, he immediately went to work. He inspected the engine very carefully, top to bottom.

Two of the ship’s owners were there, watching this man, hoping he would know what to do. After looking things over, the old man reached into his bag and pulled out a small hammer. He gently tapped something. Instantly, the engine lurched into life. He carefully put his hammer away.

The engine was fixed! A week later, the owners received a bill from the old man for ten thousand dollars.

‘What?!’ the owners exclaimed. ‘He hardly did anything!’ So they wrote the old man a note saying, ‘Please send us an itemized bill.’

The man sent a bill that read:

1. Tapping with a hammer. ………..$ 2.00

2. Knowing where to tap……… ….. $ 9,998..00

Moral of the story: Effort is important, but knowing where to make an effort in your life makes all the difference.
date
JBlogs~Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketika pun ia tidak berhenti (Rut 2:7)

Bekerja sebagai regu pemadam kebakaran itu unik. Menurut Dr. Terence Keane, seorang pengamat perilaku, hanya 5% waktu mereka dipakai untuk memadamkan api. Sisanya, 95% waktu dipakai untuk menunggu. Ini membuat banyak pemadam kebakaran kerap merasa bosan, sehingga mereka disarankan agar melakukan pekerjaan lain untuk mengisi waktu, tetapi tetap siaga. Orang yang tidak bekerja akan merasa hidupnya tak bermakna. Tak bersemangat. Sebaliknya, kesibukan bekerja akan meningkatkan vitalitas hidup!

Rut dan mertuanya tiba di Israel tanpa membawa apa pun. Melarat.
Fakta ini mengharuskan Rut segera berjuang mencari makan agar mereka berdua bisa tetap hidup. Rut tidak suka berpangku tangan, apalagi meminta-minta sambil menunggu belas kasihan orang. Rut lebih suka bekerja. Maka, ia mohon diperkenankan memungut sisa bulir-bulir jelai yang berceceran. Pekerjaan kasar ini ia tekuni dari pagi sampai sore. Melelahkan. Namun, Rut bekerja dengan tekun. "Seketika pun ia tidak berhenti," karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya. Rut bekerja keras melakukan yang terbaik, meski pekerjaannya sangat tidak menyenangkan. Dan, Tuhan memberkati karyanya.

Mungkin pekerjaan Anda lebih nyaman daripada Rut. Sudahkah Anda
bekerja segiat dia: melakukan yang terbaik? Ataukah kita
bermalas-malasan dan bekerja ala kadarnya? Ingatlah bahwa setiap
pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Berapa pun upah yang Anda terima,pekerjaan membuat kita merasa diri berharga. Pekerjaan membuat kita mampu mandiri. Jika dilakukan dengan giat dan penuh dedikasi,pekerjaan akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan -JTI

JANGAN BEKERJA ALA KADARNYA BEKERJALAH SEOLAH TUHAN-LAH BOS ANDA
date Minggu, 11 April 2010
Anda bukan hanya ditakdirkan menjadi suami atau isteri tetapi lebih dari itu, anda juga harus menjadi sahabat, kekasih dan belahan jiwa jadi dengan bukan hanya sebagai isteri tapi juga sebagai sahabat, kekasih dan belahan jiwa maka kebersamaan akan terasa indah, baik sesudah dan seperti sebelum menikah.

Mengapa tidak hanya menjadi suami atau isteri tetapi harus menjadi sahabat, kekasih dan belahan jiwa????

Hal ini karena dalam pernikahan akan banyak sekali masalah yang timbul karena kebersamaan ini.

Dengan menjadi SAHABAT, dalam kebersamaan diharapkan orang bisa saling terbuka membicarakan masalah yang dialami secara "blak-blakan" tanpa rasa jangun, prasangka dan saling mempercayai.

Lihatlah kehidupan dalam persahabatan, mereka hidup berjauhan tetapi bisa saling bertemu untuk meneguhkan dalam pembicaran, sharing dan bahkan adu pendapat tetapi tetap saling membangun karena ada kepercayaan bahwa apa yang "perdebatkan" demi kebaikan dan hasil dari "perdebatan" tidak mempengaruhi persahabatan.

Sahabat adalah relasi yang saling membangun, meneguhkan dan bankan menegur agar kebaikan dicapai.

Jika suami isteri bisa hidup sebagai SAHABAT maka pertengkaran pasti akan bsia diselesaikan dengan baik karena dalam persahabatan tidak mencari keuntungan sendiri.

Disamping sebagai sahabat dalam hubungan suami isteri juga harus sebagai KEKASIH.

Kekasih adalah masa sebelum ada ikatan dalam perkawinan atau masa pacaran.

Jika suami isteri hidup sebagai kekasih, maka keinduan selalu ada dan keinginan untuk bertemu selalu "menghantui" bahkan akan teras sepi jika tidak ada relasi diantara berdua.
Kekasih selalu akan nampak baik dan indah karena disana selalu dipenuhi oleh cinta yang membara.

Jika dalam perkawianan "sifat" pacaran sebagai kekasih ada maka kebaikan pasti selalu ada karena setiap dari mereka tetap menjaga untuk selalu rukun dan saling belajar untuk melengkapi satu dengan yang lainya bahkan dalam banyak masalah selalu dibicarakan dalam suasan yang mesra karena takut saling menyakiti.

Maka selalulah memandang isteri atau suami adalah sebagai kekasih hati dan selalu menjadikan mereka sebagai yang paling berharga.

Setelah sebagai sahabat dan kekasih, jadikan suami atau isteri anda sebagai BELAHAN JIWA.

Jika orang memperlakukan isterinya sebagai belahan jiwa maka "ketergantungan" akan selalu ada dalam diri mereka bahwa tanpa suami atau isteri maka akan ada hal yang kurang bahkan hidup menjadi tidak sempurna.

Jadi tanpa keberadaan isteri atau suami hidup seperti burung yang kehilangan sayap hingga tidak bisa bergerak dengan bebas bahkan lama-kelamaan mati.

Belahan jiwa adalah inti peran paling sentral dalam setiap perkawainaan.

Dengan berani menjadikan isteri atau suami sebagai belahan jiwa maka dapat dipastikan kehidupan bersama akan menajadi lebih baik karena mereka tidak akan saling menyakiti tetapi saling menjaga dan menyempurnakan.

Maka selalulah memandang isteri atau suami sebagai belahan jiwa atau dalam bahasa jawa adalah "garwo" atau "sigaraning nyowo".
Suami atau isteri adalah separo dari nyawa/kehidupan mareka yang telah menikah.

Maka jika ada masalah dalam keluarga, ingatlan sakramen pernikahan Anda dimana hati Anda telah dibelah dan separo dari hati Anda dikorbankan kepada Allah dan diganti dengan separo hati pasangan Anda.

Jika peran suami atau siteri telah dilengkapi dengan peran sebagai SAHABAT, KEKASIH dan BELAHAN JIWA, maka perkawianan akan terasa indah dan menyenangkan karena diantara satu pribadi dengan pribadi lainya yang telah disatukan dalam sakramen akan selalu bisa menjadi tumpuan dalam kehidupan mereka.

Selamat membangun keluarga berdasarkan peran sebagai suami atau isteri, sahabat, kekasih dan belahan jiwa.

Saya berdoa untk kebaikan keluarga Anda,

Jika ada masalah selalulah ingat kalau Anda sedang bersama dengan sahabat Anda, kekasih Anda dan bahkan Jiwa Anda sendiri.
Tanpa isteri atau suami hidup akan menjadi sangat berbeda bahkan menjadi sangat menderita.

Salam dalam cinta membangun keluarga sebagai ISTERI atau SUAMI, SAHABAT, KEKASIH dan BELAHAN JIWA.
date

Kenalan yah teman-teman

Foto saya
Palu, Sulawesi-Tengah, Indonesia
Keingintahuan akan pengetahuan